Peter Higgs atau Higgs Boson dan Misteri “Partikel Tuhan”

Diposkan oleh Label: di
Pencetus sekaligus penggagas lahirnya teori Partikel Tuhan diawali oleh seseorang yang bernama Peter Higgs atau Higgs Boson. Riwayat singkat penemuan Partikel Higgs yang sempat sebelumnya disebut Partikel Tuhan itu diawali dari Peter Higgs yang terlahir di Newcastel 29 Mei tahun 1929, hobi dengan ilmu fisika sejak remaja. Ayahnya seorang teknisi di stasiun radio BBC yang bertugas berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebab mengikuti orang tua yang sering nomaden itu sampai Higgs pernah mengalami beberapa penyakit, dan sekolahnya pun memang sempat berantakan. Beruntung Higgs kemudian memilih menetap bersama ibunya. Di sebuah kota kecil bernama Bristol. Sedang sang ayah tinggal di Bedford. "Ibu mendorong saya untuk maju. Sedangkan ayah, dia hanya takut berhadapan dengan tanggung jawab memelihara anak," kata Higgs tentang ayah ibunya.

Ketertarikannya dengan fisika sudah terlihat ketika dia bersekolah di Cotham Grammar School. Apalagi fisikawan Paul Dirac adalah alumni sekolah tersebut. Dirac yang dianggap sebagai bapak mekanika kuantum ini rupanya sangat menginspirasi Peter Higgs. Menapaki jejak Dirac, Higgs pun mulai menceburkan diri dalam fisika teoritis. Dia sangat bersemangat. Rajin belajar dan membaca buku. "Ini tentang memahami, memahami dunia," ujar Higgs dengan antusias.

Sekolahnya sempat berantakan. Sebab perang berkecamuk. Bristol luluh lantak dihujani bom tentara Jerman. "Hal pertama yang saya lakukan saat tiba di sekolah itu adalah mematahkan tangan kiri saya setelah jatuh akibat bom," kisah Higgs mengenang. Higgs juga terpisah dari keluarganya hingga perang berakhir.

Di umur 17 tahun, Higgs kemudian masuk ke City of London School. Dia mengambil jurusan Matematika. Higgs tidak tertarik melanjutkan kuliah di Oxford atau Cambridengane. Dia beralasan, "Itu merupakan tempat orang kaya untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu,” kata Higss. Jika ingin serius soal universitas, lanjutnya, Anda harus kuliah di tempat lain.


Higgs kemudian kuliah di King's College, London. Lulus dari kampus itu menjadi dosen di Universitas Edinburgh. Saat menjadi dosen itulah, Higgs tertarik dengan misteri: mengapa benda di sekitar kita memiliki berat atau massa. Pertanyaan itu terus berputar di benak. Suatu hari, ketika sedang menghabiskan liburan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia, Higgs mengutak-atik soal teori medan yang tak tampak dan partikel itu.

Higgs lalu melakukan serangkaian penelitian. Hasil penelitian itu dikemas dalam tulisan ilmiah. Tulisan itu dikirim ke jurnal ilmiah "The Phsysics Letters". Sayang tulisan itu ditolak mentah-mentah para editor. Lebih menyakitkan lagi, editor jurnal ilmiah yang dikelola oleh Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) itu menyebut temuan Higgs secara jelas tidak memiliki relevansi dengan fisika. "Ketika itu dia (Higgs) hanya berpikir, 'Sudahlah, mereka tidak memahami itu'," kisah ilmuwan yang menjadi kolega Peter Higgs, Alan Walker.

Bukan hanya ditolak jurnal ilmiah bergengsi, Higgs juga sering di ejek para sahabat. Banyak kolega yang mengira dia seorang idiot, karena mengutak-atik teori medan kuantum, yang dianggap sudah kuno. Tapi dia tidak menyerah. Terus melakukan penelitian. Sejumlah ilmuwan juga mengembangkan teori yang serupa dengan Higgs. Antara lain Robert Brout dan Francois Englert. Temuan mereka ini yang kemudian dimuat di jurnal “Physical Review Letters”. Para ilmuwan itu sepakat menamakan medan tak tampak beserta partikel itu dengan sebutan,"mekanisme Higgs".

Lantaran namanya melekat di sejumlah artikel ilmiah itu, Higgs kemudian diundang para ilmuwan di Institute for Advanced Study. Maret 1966. Peter Higgs mengaku cemas saat pertama kali menginjakkan kaki di Institute for Advanced Study. Institusi yang terletak tidak jauh dari Universitas Princeton, New Jersey, Amerika Serikat ini merupakan pusat riset paling bergengsi, khususnya untuk riset teoritis.

Sejumlah ilmuwan besar, seperti Albert Einstein, penemu komputer Alan Turing, dan J. Robert Oppenheimer, pernah lama di institusi itu. Sedangkan Higgs dipanggil ke sana hanya untuk menguji teori fisika yang dikembangkannya dan mengusik para ilmuwan itu. Higgs diminta untuk menjelaskan teori itu di hadapan sejumlah ilmuwan fisika kelas dunia. Meski dilanda cemas dan panik, Higgs tidak ingin kehormatan itu sia-sia. Apalagi dua tahun sebelumnya, Higgs merasa mendapat penolakan atas temuannya itu.

Dan memang benar. Dalam ujian itu teorinya dipreteli para fisikawan ternama itu. Serangan umumnya kedua hal: tentang medan tak tampak dan partikel pemberi massa. Hebatnya dia menjawab semua pertanyaan itu dengan tangkas dan memukau. Dan Higgs sungguh lega. Pada catatan akhir, tidak satu pun fisikawan di Institute for Advanced Study yang melihat cacat pada teori yang ditemukannya itu. Dia pulang dengan puas hati.

Tapi teori yang ditulis Higgs itu belum bisa dibuktikan. Sebab, partikel dan medan tak tampak ini merupakan wilayah yang sungguh kecil. Sulit 'dilihat', bahkan dengan dengan bantuan teknologi tercanggih saat itu. Jadilah teori Higgs ini menjadi salah satu misteri yang belum terpecahkan bagi sains modern. Empat puluh delapan tahun kemudian -- sesudah dicetuskan pertama kali tahun 1964 -- hipotesa yang diajukan Higgs terbukti. Jika sebelumnya editor jurnal ilmiah dari CERN menolak teori Higgs, kali ini CERN juga yang berhasil membuktikan teori itu.

Dengan memanfaatkan laboratorium pemecah partikel raksasa Larga Hadron Collider (LHC), para ilmuwan ini menemukan partikel yang memiliki massa sekitar 125-126 GeV (Gigaelectronic Volts, atau satuan energi setara miliaran electron volts).

Peter Higgs menangis. Ilmuwan pemalu ini tidak menyangka bahwa dia masih hidup ketika teori itu menemukan kebenarannya. "Saya tidak pernah memimpikan ini selama 48 tahun, sebab banyak hal yang harus saya lakukan dalam hidup. Tapi awalnya, saya tidak menyangka bahwa saya masih hidup saat ini terjadi," kata Peter Higgs.

Sejak dicetuskan 1964, mekanisme Higgs ini tidak begitu memikat perhatian. Hanya dibicarakan di kalangan ilmuwan. Teori itu baru menarik perhatian publik berkat Leon M. Lederman, peraih Nobel Fisika yang menulis buku berjudul "The God Particle: If the Universe is the Answer, What is the Question?".

Dalam buku terbitan 1993, peneliti Fermilab itu mengaku memberi sebutan "Partikel Tuhan" sebab partikel ini sangat utama dalam memahami ilmu fisika saat ini.
"Sangat krusial untuk memahami struktur materi, tapi begitu sulit untuk ditemukan," kata Lederman. "Lagipula", Lederman melanjutkan, "penerbit tidak mungkin memberi judul buku ini 'Goddamn Particle' (partikel terkutuk)," kelakar ilmuwan yang memang dikenal humoris ini. Tapi Peter Higgs tidak suka dengan istilah “partikel Tuhan” ini. Meski mendeklarasi sebagai seorang atheis, Higgs sadar betul bahwa penamaan ini bersifat ofensif terhadap orang beragama.

"Saya harus menjelaskan kepada orang-orang bahwa itu adalah lelucon. Saya seorang atheis, tapi saya tidak bisa menganggap enteng dengan pemberian nama yang tak perlu dan bersifat ofensif kepada mereka yang religius," tutur Higgs.
Tak hanya itu, Higgs pun merasa risih dengan namanya yang melekat pada mekanisme dan partikel yang dicetuskan. Higgs sadar bahwa nama peneliti Belgia yang juga ikut mencetuskan, Robert Brout, Francois Englert, seharusnya juga berhak menyandangkan nama mereka di partikel dan medan tak tampak itu. Meski begitu Brout dan Englert mengaku tak keberatan dengan melekatnya nama Higgs itu.

Higgs memang dikenal sebagai seorang yang rendah hati dan memiliki prinsip yang humanis. Meski mengembangkan fisika yang terkait dengan nuklir, Higgs masih dikenal sebagai aktivis untuk kampanye pelucutan senjata nuklir. Selain itu, Higgs juga pernah menolak datang saat dia diberi penghargaan Wolf Prize bidang Fisika, tahun 2004 silam. Alasannya sederhana, Higgs tak ingin terbang ke Yerussalem dan menghadiri acara kenegaraan Israel yang dihadiri Presiden Israel saat itu, Moshe Katsav. Dan ini merupakan bentuk protes Higgs terhadap aksi Israel di Palestina

Penganugerahan Partikel Higgs boson, yang sering disebut juga Partikel Tuhan.
Hari masih terang tanah, tapi di markas Center for Nuclear Research (CERN) di Jenewa, Swiss kesibukan sudah dimulai, Rabu 4 Juli 2012 lalu. Ribuan ilmuwan antri panjang sambil menahan kantuk. Mereka harus bangun pukul 05.00, untuk mendapatkan tiket kursi di auditorium.

Perjuangan itu tampaknya setimpal. Yang hendak disaksikan adalah satu presentasi penelitian kolosal, melibatkan 3.000 ilmuwan dari 40 negara. Tim itu terbagi dua, dipimpin Joe Incandela dan Fabiola Gianotti, yang bereksperimen terpisah di Large Hadron Collider –A Toroidal LHC Apparatus (ATLAS), dan Compact Muon Solenoid (CMS).

Mereka akan mengumumkan temuan sebuah partikel baru, yang memiliki massa sekitar 125-126 gigaelectronvolts (GeV). Itu artinya, sekitar 130 kali lebih berat proton yang menjadi inti dari setiap atom.
Ini sungguh pencapaian sulit, dan tentu saja mahal. Penelitian itu memakai Large Hadron Collider (LHC), pemercepat partikel sepanjang 27 kilometer, terkubur di bawah tanah di perbatasan Prancis dan Swiss. Dibangun dengan dana US$10,5 miliar, alat itu dipakai untuk menciptakan kembali kondisi setelah Big Bang, ledakan mahabesar, yang diduga sebagai awal penciptaan alam semesta.

“Sebagai manusia awam, saya akan mengatakan, kami telah menemukannya,” kata Direktur Jenderal CERN, Rolf Heuer. Meski tak memastikan, dan hanya menyebut partikel yang temukan adalah boson, para ilmuwan yakin 99,999 %, partikel baru itu konsisten dengan apa yang selama ini mereka cari: Higgs boson.

Boson Higgs alias "Partikel Tuhan" akhirnya mengantarkan dua peneliti yang menggagasnya meraih Nobel Fisika tahun 2013.

Peter Higgs dari Inggris dan Francois Englert adalah dua peneliti yang berbagi hadiah nobel tersebut. Pada tahun 1960, mereka adalah dua orang peneliti yang mengajukan pandangan bagaimana materi di alam semesta bisa memiliki massa. Menurut dua peneliti tersebut, materi bisa memiliki massa karena adanya sebuah partikel yang memberikannya.

Boson Higgs akhirnya ditemukan pada Juli 2012 oleh tim ilmuwan dari Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN). Penemuan dikonfirmasi pada Maret 2013 lalu. "Nobel Fisika tahun ini adalah tentang sesuatu yang kecil, tetapi membuat perbedaan besar," kata Staffan Normark, sekretaris permanen dari Royal Swedish Academy of Sciences, seperti dikutip BBC, Selasa (8/10/2013).

Englert mengungkapkan bahwa ia "sangat gembira" bisa memenangkan penghargaan ini. "Awalnya, saya kira saya tak mendapatkannya karena saya tak menyaksikan pengumumannya," kata Englert kepada Komite Nobel usai konferensi pengumuman hadiah nobel yang sempat tertunda satu jam.

Sementara Higgs yang namanya diabadikan menjadi nama partikel mengatakan bahwa dirinya juga sangat bangga bisa memenangkan Nobel Fisika itu. "Saya juga berterima kasih kepada mereka yang berkontribusi pada penemuan partikel ini dan kepada keluarga, teman, dan rekan kerja saya atas dukungannya," katanya.

Direktur CERN, Rolf Heuer, mengungkapkan bahwa dia bergetar mengetahui penghargaan nobel jatuh ke sebuah peneliti fisika partikel. "Penemuan Boson Higgs di CERN tahun lalu, yang memvalidasi mekanisme Brout-Englert-Higgs, menandai puncak upaya intelektual selama satu dekade dari berbagai kalangan di seluruh dunia," katanya.

Peter Higgs (ilmuan atheis) saat ini adalah sosok sentral yang mewakili keinginan sebagian manusia selama ribuan tahun untuk menguak asal usul alam semesta (apakah ada keterlibatan Tuhan atau tidak dalam penciptaannya ) melalui akal dan inderanya. Setelah berpuluh-puluh tahun Peter Higgs dan ilmuan lainnya bekerja keras, hadirlah sepenggal kemajuan pengetahuan baru, yaitu penemuan partikel dasar yang lebih kecil yang diduga merupakan bahan pembentuk materi dan dikenal dengan sebutan yang terdengar tidak sopan, yaitu "partikel tuhan".

Itu adalah penelitian dan penemuan yang sah (benar), karena alam semesta memang karyaNYA yang mengandung keagungan ilmu, sedangkan manusia dianugerahi akal dan indera untuk menganalisa. Penggunaan akal dan indera secara benar adalah bentuk pelaksanaan perintah-NYA, sekaligus juga penghargaan (rasa syukur) atas anugerahnya itu (yang juga adalah karya-NYA). Dan setiap ilmu yang benar akan selalu mengandung hikmah. Terlepas dari misi awal Ilmuan dalam mengadakan penelitian ilmiah, manusia patut berterimakasih kepada mereka yang dengan penelitiannya itu terus membuahkan teknologi yang membawa kemudahan hidup. Dan kepada Tuhanlah segala pujian, karena akal dan indera manusia adalah ciptaan-NYA. Dengan demikian, kemudahan hidup itu sesungguhnya adalah dari-NYA.

Sampai dengan peradaban manusia sejauh ini, peran ilmu pengetahuan inderawi memang telah berhasil membawa kemajuan nyata dalam bentuk berbagai kemudahan hidup. Dia juga berperan dalam upaya menyelami maha karya Tuhan, bahwa semakin ditelusuri karya-NYA semakin terlihat menakjubkan. Hal tersebut akan memunculkan keyakinan, yang memperkuat kepercayaan (keimanan) bahwa Tuhan memang Maha Besar dan Maha Sempurna.

Akan tetapi, ilmu pengetahuan inderawi yang telah berkembang ribuan tahun itu bagaimanapun juga tak mampu mengungkap semua misteri yang terbentang di alam raya ini, apalagi mengetahui hakekatnya. Masih sangat banyak teka-teki yang belum terpecahkan. Setiap penemuan baru selalu melahirkan pertanyaan baru yang jumlahnya lebih banyak. Terhadap dunia materi saja masih belum bisa memahami secara utuh, apalagi terhadap dunia di luar materi yang mencakup nilai-nilai seperti ekonomi, sosial, kesehatan, psikologi, dan spiritualisme, ilmu pengetahuan inderawi tadi bagaikan tak bisa berkata apapun. Alhasil, manusia butuh pengetahuan yang lain dalam menjalani kehidupannya secara total.

Pada titik itu manusia (termasuk para ilmuan) yang jauh dari Agama perlu membuka mata, bahwa dari berbagai informasi – yang benar maupun tidak - yang bertebaran di sepanjang sejarah manusia sesungguhnya terdapat informasi yang diklaim oleh para Nabi sebagai informasi yang berasal dari Sang Pemilik Alam Semesta. Kalau diteliti dengan seksama, niscaya dalam Al Qur'an (informasi Tuhan yang penulis percayai kebenarannya) itu terdapat semua kebenaran dan jawaban yang menyeluruh bagi semua aspek kehidupan manusia. Di dalam Al Qur'an itu, terdapat komunikasi yang luar biasa antara Tuhan dengan aktivitas manusia, di antaranya dengan telah terjadinya bukti-bukti kebenaran ayat suci, dan terus akan terbuktikan.

Al Fushilat:53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami pada segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Tentang upaya manusia dalam menemukan Tuhan di alam raya melalui pengetahuan inderawi, sebenarnya hal itu telah diwakili oleh seorang manusia pada ribuan tahun yang lalu :

(Al An'am: 75 -78)
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat".
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Ibrahim telah berupaya mencari Tuhan dengan mengandalkan pengetahuan inderawinya. Dia mengagumi benda-benda langit sebagai sesuatu yang luar biasa. Namun demikian, akhirnya dia yakin bahwa tak ada sosok materi yang layak diper-Tuhan-kan, kemudian dia menyatakan kepasrahannya kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan kepercayaan (keimanan) yang utuh atau tanpa kesyirikan.
Back to Top